Abazhongchagou: Surga Sejuk yang Memukau
Berangkat pagi: Melangkah dari Jiuzhaigou ke Lembah Sejuk
Pada bulan Juni, pintu masuk Jiuzhaigou sudah mulai terasa panas, kami mengendarai mobil ke jalan nasional, dan setelah 20 menit berbelok ke Abazhongchagou. Begitu memasuki lembah, angin yang membawa aroma segar dari rerumputan dan pepohonan langsung menyambut, suhu yang empat hingga lima derajat lebih rendah dari pintu masuk langsung mengusir panas yang menyelimuti tubuh.
Di tempat parkir Stasiun Teh dan Kuda, banyak mobil terparkir, seorang paman Tibet memegang kuda sambil menawarkan jasa: "Naik kuda ke padang rumput, anginnya kencang di sana, dan kamu bisa melihat gunung bersalju!" Kami memilih berjalan kaki, mengikuti jalan kayu ke dalam lembah, di kedua sisi pohon cemara menutupi langit, sinar matahari hanya menembus celah daun, jalan kayu di bawah kaki mengikuti aliran sungai, suara gemericik air memenuhi telinga.
Mencari kesejukan: Bisikan sungai dan hutan
Setelah berjalan sekitar setengah jam, sungai di samping jalan kayu melebar membentuk kolam dangkal berwarna hijau zamrud. Teman seperjalanan melepas sepatu dan menginjak air, berseru dengan gembira: "Airnya sangat dingin! Rasanya seperti menginjak es!" Aku juga berjongkok dan mengambil segenggam air, dingin segar khas aliran gunung, setelah membasuh muka, hidung pun terasa segar.
Melanjutkan berjalan mengikuti aliran sungai, sesekali melewati beberapa jembatan gantung yang melintang di atas air. Jembatan kayu bergoyang lembut mengikuti langkah kaki, menunduk terlihat ikan kecil berenang di kolam, menatap ke atas terlihat hijau yang memukau—tanaman pakis menumpuk di tebing, bahkan bunga liar tak dikenal tumbuh di celah batu. Seorang penduduk Tibet yang lewat tersenyum berkata, "Kalau terus ke dalam ada air terjun, itu baru benar-benar sejuk!"
Menjelajah desa: Aroma teh mentega di rumah adat Tibet
Melewati hutan cemara yang lebat, beberapa rumah kecil desa Tibet muncul di lembah. Pada bulan Juni, jelai di sekitar desa sudah mulai berbunga, ladang hijau mengelilingi rumah kayu berwarna alami, bendera doa di atap berkibar tertiup angin. Kami mengikuti asap dapur masuk ke sebuah rumah keluarga Tibet, seorang ibu duduk di dekat perapian membuat teh mentega, saat melihat kami masuk, ia segera berdiri dan menuangkan dua mangkuk: "Cuaca panas, minum teh mentega ini untuk menghilangkan lelah."
Teh mentega yang gurih dan beraroma susu itu membuat perut hangat setelah diminum, tapi sama sekali tidak membuat gerah. Ibu itu membawa sepiring zanba, lalu menunjuk ke luar jendela, "Lihat gunung dewi Suobo di seberang, salju Juni belum mencair." Mengikuti arah yang ditunjuk, puncak gunung di kejauhan memang masih tertutup salju putih yang berkilau di bawah sinar matahari, kontras dengan ladang jelai hijau di kaki gunung.
Mendaki bukit: Awan bergulung di padang rumput
Setelah minum teh mentega, kami mendaki bukit di belakang desa, dalam 10 menit sampai di padang rumput pegunungan yang luas. Padang rumput sudah dipenuhi rumput hijau, bunga liar berwarna biru dan ungu tersebar di antara rerumputan, angin berhembus membuat gelombang rumput bergoyang, membawa aroma bunga yang lembut. Kami berbaring di padang rumput, melihat awan di langit bergerak lambat, gunung dewa pria putih dan gunung dewi Suobo saling berhadapan jauh di sana, desa Tibet, sungai, dan hutan terlihat jelas di kaki gunung.
Beberapa anak Tibet bermain kejar-kejaran di padang rumput, memegang bunga liar yang baru dipetik, tawa mereka bergema di lembah. Teman mengeluarkan kamera dan mengabadikan momen itu: di bawah langit biru dan awan putih, gunung bersalju, padang rumput, dan rumah adat Tibet membentuk lukisan hidup yang lebih alami dan liar dibandingkan air di Jiuzhaigou.
Kembali sore: Janji dengan kesejukan
Pukul empat sore, kami mulai berjalan pulang. Sinar matahari sore menembus dedaunan dan menyinari jalan kayu, meninggalkan bayangan bercak-bercak, suara air sungai terdengar lebih jernih daripada saat datang. Saat sampai di Stasiun Teh dan Kuda, paman Tibet masih menunggu di pintu, tersenyum bertanya, "Senang bermain? Datang lagi bulan Juli, bunga di padang rumput akan lebih banyak!"
Mobil melaju kembali ke Jiuzhaigou, angin di luar jendela masih membawa kesejukan Abazhongchagou. Perjalanan tanpa keramaian ini membuatku menemukan surga sejuk tersembunyi di dalam pegunungan pada bulan Juni yang panas. Aku diam-diam berjanji dalam hati, saat bunga mekar penuh di padang rumput bulan Juli, aku pasti akan kembali untuk bertemu lagi dengan Abazhongchagou.
1. Informasi dasar kawasan wisata
1. Lokasi geografis: Distrik Zhangzha, Kabupaten Jiuzhaigou, Prefektur Otonom Tibet dan Qiang Aba, Provinsi Sichuan.
3. Jam buka: Buka sepanjang tahun, 24 jam.
4. Biaya tiket: Masuk gratis, untuk memasuki padang rumput dikenakan biaya kebersihan 10 yuan/orang, biaya tambahan untuk naik kuda dan aktivitas lainnya.
2. Waktu terbaik berkunjung
· Musim semi (Mei-Juni): Padang rumput kembali hijau, bunga liar bermekaran di seluruh gunung, rhododendron pegunungan mekar, udara segar, cocok untuk hiking dan menikmati alam.
· Musim panas (Juli-Agustus): Iklim sejuk, suhu rata-rata sekitar 20℃, tempat yang bagus untuk menghindari panas, aliran sungai mengalir, hijau subur.
· Musim gugur (September-Oktober): Hutan berwarna-warni, dipadukan dengan gunung bersalju dan langit biru, pemandangan sangat berlapis, waktu terbaik untuk fotografi.
· Musim dingin (Desember-Februari): Pemandangan salju yang tenang, putih bersih, sedikit pengunjung, suasana damai, cocok untuk wisatawan yang menyukai ketenangan.
3. Panduan transportasi
1. Kedatangan dari luar daerah ke Jiuzhaigou
· Pesawat: Terbang langsung ke Bandara Jiuzhai Huanglong, naik taksi atau carpool ke Zhangzha, lalu lanjut ke Abazhongchagou, perjalanan sekitar 1,5 jam.
· Kereta cepat: Dari Stasiun Chengdu Timur naik kereta cepat ke Stasiun Zhenjiangguan, lanjut carpool atau bus ke Zhangzha, total perjalanan sekitar 3 jam.
· Berkendara sendiri: Dari Chengdu melalui Tol Rongchang → Jalan Nasional 213 → Jalan Nasional 544, total sekitar 6,5 jam, kondisi jalan baik dengan pemandangan indah sepanjang perjalanan.
2. Dari Zhangzha ke Abazhongchagou
· Taksi/sewa mobil: Dari pintu masuk Jiuzhaigou atau Zhangzha naik taksi langsung ke Abazhongchagou, perjalanan sekitar 30 menit, biaya sekali jalan 50-80 yuan.
· Shuttle bus: Menginap di resor seperti Luneng Shengdi, Hilton, Conrad, dan hotel lainnya dapat menggunakan shuttle bus khusus kawasan wisata secara gratis.
4. Rekomendasi kuliner khas
· Hotpot tradisional Tibet: Daging yak, jamur liar, sayuran dataran tinggi dimasak bersama, rasa segar dan kaya, menghangatkan tubuh dan perut.
· Daging yak tangan: Daging kenyal, rasa asli, dicelupkan ke bumbu khas Tibet sangat lezat.
· Roti jelai, teh mentega, zanba: Makanan pokok khas Tibet, pengalaman kuliner otentik.
· Ayam dalam panci batu: Sup ayam segar dengan bahan dataran tinggi, bergizi dan lezat.