https://id.trip.com/blog/nyepi-bali

Hari Raya Nyepi 2026: Makna, Sejarah, dan Panduan Lengkap

_TI***9g
_TI***9g14 Feb 2026

Konten

  • Hari Raya Nyepi 2026 | Kapan Tanggal Nyepi?
  • Hari Raya Nyepi 2026 | Apa Itu Nyepi?
  • Hari Raya Nyepi 2026 | Makna dalam Agama Hindu
  • Hari Raya Nyepi 2026 | Sejarah dan Asal-Usulnya
    • Hari Raya Nyepi 2026 | Asal-Usul Tahun Baru Saka
    • Hari Raya Nyepi 2026 | Masuknya Kalender Saka ke Indonesia
    • Hari Raya Nyepi 2026 | Perkembangan Perayaan Nyepi di Bali
  • Hari Raya Nyepi 2026 | Rangkaian Upacara Sebelum Nyepi
    • Hari Raya Nyepi 2026 | Upacara Melasti
    • Hari Raya Nyepi 2026 | Tawur Kesanga
    • Hari Raya Nyepi 2026 | Pawai Ogoh-Ogoh
  • Hari Raya Nyepi 2026 | Catur Brata Penyepian
    • Hari Raya Nyepi 2026 | Amati Geni (tidak menyalakan api/lampu)
    • Hari Raya Nyepi 2026 | Amati Karya (tidak bekerja)
    • Hari Raya Nyepi 2026 | Amati Lelungan (tidak bepergian)
    • Hari Raya Nyepi 2026 | Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang)
  • Hari Raya Nyepi 2026 | Suasana Bali Saat Nyepi
  • Hari Raya Nyepi 2026 | Upacara Setelah Nyepi (Ngembak Geni)
  • Hari Raya Nyepi 2026 | Ucapan Hari Raya Nyepi
    • Hari Raya Nyepi 2026 | Ucapan Formal
    • Hari Raya Nyepi 2026 | Ucapan Singkat dan Sederhana
    • Hari Raya Nyepi 2026 | Ucapan untuk Media Sosial
    • Hari Raya Nyepi 2026 | Ucapan Bahasa Inggris
  • Hari Raya Nyepi 2026 | Tips untuk Wisatawan di Bali
  • Selengkapnya

Hari Raya Nyepi 2026 merupakan perayaan Tahun Baru Saka yang penuh makna bagi umat Hindu, khususnya di Bali. Berbeda dari perayaan tahun baru pada umumnya, Nyepi dijalani dalam suasana hening selama 24 jam sebagai momen untuk menenangkan diri dan melakukan perenungan mendalam. Pada tahun 2026, Nyepi jatuh pada 19 Maret dan seluruh aktivitas di Bali akan berhenti sementara. Melalui artikel ini, Anda akan menemukan penjelasan lengkap tentang makna spiritual, sejarah, rangkaian upacara, hingga panduan penting bagi wisatawan yang berada di Bali saat Nyepi berlangsung.



Pemandangan Malam Gerbang Bali Dan Pura Latar Belakang

(Sumber: iStockphoto)


Hari Raya Nyepi 2026 diperingati pada Kamis, 19 Maret 2026. Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan sebagai Tahun Baru Saka 1948. Di Indonesia, Nyepi termasuk dalam daftar hari libur nasional, sehingga aktivitas perkantoran, sekolah, hingga layanan publik di Bali akan dihentikan sementara selama 24 jam penuh.

Perayaan Nyepi biasanya jatuh pada bulan Maret karena mengikuti Kalender Saka, yaitu sistem penanggalan tradisional Hindu yang perhitungannya berbeda dengan kalender Masehi. Oleh karena itu, tanggal Nyepi setiap tahunnya bisa berubah. Pada tahun 2026, Nyepi menjadi momen penting untuk refleksi diri sekaligus awal tahun baru dalam tradisi Hindu.


Ritual Tawur Agung di Candi Prambanan

(Sumber: iStockphoto)


Hari Raya Nyepi adalah hari suci umat Hindu yang dirayakan sebagai Tahun Baru Saka. Berbeda dengan perayaan tahun baru pada umumnya yang identik dengan pesta dan kemeriahan, Nyepi justru dirayakan dalam suasana hening dan penuh ketenangan. Kata “Nyepi” sendiri berasal dari kata “sepi” yang berarti sunyi atau diam.


Pada Hari Raya Nyepi, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, yaitu empat pantangan utama yang meliputi tidak menyalakan api atau lampu (Amati Geni), tidak bekerja (Amati Karya), tidak bepergian (Amati Lelungan), dan tidak menikmati hiburan (Amati Lelanguan). Selama 24 jam penuh, aktivitas dihentikan sebagai bentuk pengendalian diri dan refleksi spiritual.


Di Bali, suasana Nyepi terasa sangat unik karena seluruh pulau ikut hening. Bandara, pelabuhan, tempat wisata, hingga jalan raya ditutup sementara. Bahkan wisatawan yang sedang berada di Bali pun wajib menghormati aturan Nyepi dengan tetap berada di dalam hotel atau penginapan. Hal ini menjadikan Nyepi sebagai salah satu perayaan keagamaan paling unik di dunia.


Secara makna, Nyepi bukan sekadar “hari tanpa aktivitas”, melainkan momen untuk membersihkan diri dari kesalahan masa lalu, menenangkan pikiran, dan memulai tahun yang baru dengan hati yang lebih jernih. Keheningan dalam Nyepi dipercaya membantu manusia menemukan keseimbangan antara diri sendiri, sesama, dan alam semesta.


1mj1t12000ri9pr3fCA7F.png

(Sumber: iStockphoto)


1. Makna Spiritual Hari Raya Nyepi

Dalam ajaran Hindu, Hari Raya Nyepi bukan hanya perayaan pergantian tahun dalam Kalender Saka, tetapi merupakan momen suci untuk memperbarui diri secara spiritual. Nyepi menjadi waktu untuk kembali mendekatkan diri kepada Tuhan dan menyadari bahwa kehidupan tidak hanya tentang aktivitas duniawi, tetapi juga tentang keseimbangan batin.

Keheningan selama 24 jam melambangkan proses “kembali ke dalam diri”, yaitu meninggalkan hiruk-pikuk dunia luar untuk menemukan ketenangan dan kesadaran spiritual.


2. Konsep Penyucian Diri dan Alam Semesta

Nyepi juga mengandung makna penyucian, baik secara lahir maupun batin. Sebelum hari Nyepi, umat Hindu melaksanakan berbagai upacara sebagai simbol pembersihan energi negatif. Saat hari Nyepi tiba, seluruh aktivitas dihentikan sebagai bentuk “mengosongkan diri” dari sifat-sifat buruk seperti amarah, keserakahan, dan ego.

Selain penyucian individu, Nyepi juga dipercaya sebagai momen untuk mengembalikan keseimbangan alam semesta. Keheningan total di Bali menciptakan harmoni antara manusia dan lingkungan, sejalan dengan nilai keseimbangan dalam ajaran Hindu.


3. Introspeksi dan Refleksi Diri

Salah satu inti utama Nyepi adalah introspeksi. Tanpa pekerjaan, hiburan, perjalanan, maupun aktivitas sosial, setiap orang memiliki ruang untuk merenungkan perjalanan hidupnya selama setahun terakhir.

Momen ini digunakan untuk:

Mengakui kesalahan yang telah diperbuat
Memperbaiki niat dan tujuan hidup
Memulai tahun baru dengan hati yang lebih bersih

Nyepi mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran diri.


4. Nilai Pengendalian Diri dan Keseimbangan Hidup

Dalam praktiknya, Nyepi mengajarkan disiplin dan pengendalian diri melalui Catur Brata Penyepian. Menahan diri dari cahaya, hiburan, aktivitas, dan perjalanan bukan hanya aturan, tetapi latihan spiritual.

Filosofi ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada kesenangan eksternal, melainkan pada kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri dan hidup selaras dengan sesama serta alam. Nilai ini juga sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, yaitu tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan keharmonisan hidup: hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan manusia dengan sesama (Pawongan), dan hubungan manusia dengan alam (Palemahan).


1mj2912000ri9sw70E44D.png

(Sumber: iStockphoto)


Hari Raya Nyepi berawal dari perayaan Tahun Baru Saka, yaitu sistem penanggalan yang berasal dari India. Kalender Saka mulai digunakan sejak tahun 78 Masehi dan menjadi salah satu sistem kalender penting dalam tradisi Hindu.

Berbeda dengan kalender Masehi yang berbasis perhitungan matahari, Kalender Saka menggabungkan perhitungan matahari dan bulan (luni-solar). Karena itulah, tanggal Nyepi setiap tahun bisa berubah jika dilihat dari kalender Masehi.

Dalam tradisi Hindu, pergantian Tahun Baru Saka tidak dirayakan dengan pesta atau perayaan meriah. Sebaliknya, tahun baru dimulai dengan keheningan sebagai simbol pembersihan diri dan awal kehidupan yang lebih baik.


Pengaruh Kalender Saka masuk ke Nusantara melalui hubungan perdagangan dan penyebaran agama Hindu dari India sekitar awal abad pertama hingga abad pertengahan. Pada masa kerajaan-kerajaan Hindu seperti Kutai, Tarumanegara, hingga Majapahit, sistem Kalender Saka mulai digunakan secara luas dalam prasasti dan kehidupan keagamaan.

Jejak penggunaan Kalender Saka dapat ditemukan dalam berbagai peninggalan sejarah di Indonesia, termasuk prasasti kuno yang mencantumkan angka tahun dalam sistem Saka. Seiring berkembangnya agama Hindu di Bali, tradisi Tahun Baru Saka tetap dipertahankan hingga kini dan dirayakan dalam bentuk Hari Raya Nyepi.


Di Bali, Nyepi berkembang menjadi tradisi yang sangat khas dan unik. Jika di India pergantian Tahun Baru Saka tidak selalu dirayakan dengan konsep “hari sunyi”, di Bali perayaan ini memiliki ciri khusus berupa penghentian total aktivitas selama 24 jam.

Tradisi seperti Melasti, Tawur Kesanga, hingga pawai ogoh-ogoh yang dilakukan sebelum Nyepi merupakan hasil perkembangan budaya lokal Bali yang berpadu dengan ajaran Hindu. Inilah yang membuat perayaan Nyepi di Bali memiliki karakter yang berbeda dan menjadi salah satu perayaan keagamaan paling unik.

Hingga saat ini, Nyepi tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya masyarakat Bali dan diakui sebagai hari libur nasional di Indonesia.


Upacara Melasti di Pantai Tanjung Pasir

(Sumber: iStockphoto)


Upacara Melasti biasanya dilaksanakan beberapa hari sebelum Nyepi. Dalam ritual ini, pratima (arca suci), simbol-simbol sakral pura, serta perlengkapan upacara diarak menuju laut atau sumber mata air seperti danau dan sungai.

Air dalam tradisi Hindu Bali dipandang sebagai elemen pemurnian. Melalui prosesi ini, benda-benda sakral tersebut “dibersihkan” secara simbolik dari pengaruh negatif yang melekat selama setahun terakhir. Umat yang mengikuti prosesi juga mengenakan pakaian adat putih sebagai lambang kesucian.

Melasti sering menjadi momen yang sangat sakral sekaligus indah secara visual, karena ribuan umat berjalan bersama menuju tepi laut dengan iringan doa dan gamelan Bali.

Ritual Tawur Agung di Candi Prambanan

(Sumber: iStockphoto)


Tawur Kesanga dilaksanakan sehari sebelum Nyepi, tepatnya pada Tilem Kesanga (bulan mati terakhir dalam Kalender Saka). Upacara ini dilakukan di perempatan desa, halaman rumah, atau area pura.

Dalam ritual ini, umat mempersembahkan berbagai sesajen sebagai simbol penyeimbangan unsur-unsur alam. Tujuannya adalah menetralisir kekuatan negatif (bhuta kala) agar tercipta harmoni antara manusia dan lingkungan sekitarnya.

Skala pelaksanaan Tawur Kesanga bisa berbeda-beda, mulai dari tingkat rumah tangga (caru kecil) hingga tingkat desa dengan prosesi yang lebih besar dan melibatkan banyak warga. Elemen api, suara, dan persembahan menjadi bagian penting dalam ritual ini.

Ogoh-ogoh prosesi di Denpasar Bali Indonesia

(Sumber: iStockphoto)


Pada malam sebelum Nyepi, suasana berubah menjadi sangat semarak dengan digelarnya pawai ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh adalah patung raksasa yang umumnya dibuat dari bambu dan kertas, kemudian dibentuk menyerupai makhluk menyeramkan atau tokoh tertentu.

Secara simbolik, ogoh-ogoh merepresentasikan sifat-sifat negatif dalam diri manusia seperti keserakahan, kemarahan, dan iri hati. Dengan diarak keliling desa dan kemudian dibakar atau dihancurkan, ogoh-ogoh melambangkan proses menghilangkan energi buruk sebelum memasuki tahun yang baru.

Pawai ini biasanya melibatkan pemuda desa yang tergabung dalam banjar, lengkap dengan iringan musik tradisional dan sorak-sorai warga. Kreativitas dalam pembuatan ogoh-ogoh juga menjadi daya tarik tersendiri, bahkan sering dilombakan di berbagai daerah di Bali.


Pada Hari Raya Nyepi, umat Hindu menjalankan empat pantangan utama yang dikenal sebagai Catur Brata Penyepian. Keempat brata ini berlaku selama 24 jam, dimulai sejak matahari terbit hingga keesokan harinya. Selama periode tersebut, seluruh aktivitas yang bersifat duniawi dihentikan sebagai bagian dari tata cara keagamaan yang telah ditetapkan dalam tradisi Hindu Bali.

Aturan ini tidak hanya berlaku di tingkat individu, tetapi juga diterapkan secara kolektif di seluruh wilayah Bali. Pemerintah daerah, lembaga adat, hingga aparat keamanan bekerja sama memastikan pelaksanaannya berjalan tertib. Inilah yang membuat Nyepi di Bali memiliki karakter yang sangat khas dibanding perayaan keagamaan lainnya.

Malam nyepi

(Sumber: iStockphoto)


Amati Geni secara harfiah berarti “tidak menggunakan api”. Dalam praktik modern, maknanya diperluas menjadi pembatasan penggunaan cahaya dan energi listrik. Pada malam hari, lampu rumah biasanya dipadamkan atau hanya dinyalakan sangat redup agar tidak terlihat dari luar.

Bagi sebagian keluarga, kegiatan memasak juga dihentikan karena melibatkan unsur api. Banyak orang sudah menyiapkan makanan sehari sebelumnya untuk dikonsumsi selama Nyepi.

Dampak dari Amati Geni terasa sangat jelas saat malam tiba. Minimnya cahaya buatan membuat langit Bali terlihat lebih bersih dan penuh bintang. Suasana menjadi sangat hening tanpa suara mesin, kendaraan, atau aktivitas rumah tangga yang biasa terdengar.


Amati Karya berarti menghentikan seluruh aktivitas kerja, baik di sektor formal maupun informal. Perkantoran, pusat perbelanjaan, tempat wisata, hingga layanan publik tidak beroperasi. Aktivitas ekonomi benar-benar dihentikan selama satu hari penuh.

Bahkan sektor transportasi udara turut terdampak. Penerbangan dari dan menuju Bali ditiadakan selama periode Nyepi. Ini menjadikan Bali sebagai satu-satunya wilayah di Indonesia yang menghentikan operasional bandara secara total dalam rangka perayaan keagamaan.

Dengan tidak adanya kegiatan profesional maupun bisnis, masyarakat memiliki waktu untuk benar-benar berhenti dari rutinitas harian yang biasanya padat.


Amati Lelungan berarti tidak melakukan perjalanan ke luar rumah. Jalan raya menjadi kosong, tanpa kendaraan pribadi, ojek, bus, maupun aktivitas lalu lintas lainnya.

Pengawasan dilakukan oleh pecalang, yaitu petugas keamanan adat yang berjaga di tiap wilayah. Mereka memastikan tidak ada warga atau wisatawan yang berkeliaran selama periode Nyepi, kecuali dalam kondisi darurat seperti kebutuhan medis.

Aturan ini membuat Bali berada dalam kondisi yang sangat berbeda dari hari biasa. Area yang biasanya ramai wisatawan seperti Kuta, Ubud, atau Seminyak berubah menjadi sunyi tanpa pergerakan manusia.


Amati Lelanguan berarti tidak menikmati hiburan atau kegiatan yang bersifat menyenangkan secara berlebihan. Televisi biasanya tidak dinyalakan, musik tidak diputar dengan suara keras, dan tidak ada acara hiburan publik.

Bagi sebagian orang, ini juga berarti membatasi penggunaan gawai dan media sosial agar suasana tetap tenang. Rumah-rumah dijaga agar tetap dalam kondisi damai tanpa keramaian atau kebisingan.

Lingkungan yang bebas dari suara kendaraan, musik, dan aktivitas komersial menciptakan atmosfer yang sangat berbeda dibanding hari-hari lainnya.


Dekorasi Tradisional pada Perayaan Bali

(Sumber: iStockphoto)


Keempat brata ini dirancang sebagai satu kesatuan. Pembatasan cahaya, pekerjaan, mobilitas, dan hiburan membentuk suatu sistem disiplin yang menyeluruh. Setiap aspek kehidupan sehari-hari disentuh dan dihentikan sementara.

Melalui praktik tersebut, umat Hindu diajak untuk menyadari betapa besarnya peran aktivitas duniawi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menghentikannya secara total, seseorang dapat menata kembali prioritas, menenangkan pikiran, dan menguatkan kendali atas diri sendiri.

Catur Brata Penyepian bukan hanya aturan eksternal, melainkan latihan kesadaran yang menyeluruh—baik dalam tindakan, ucapan, maupun pikiran.


Candi tradisional Bali

(Sumber: iStockphoto)


Saat Hari Raya Nyepi berlangsung, suasana Bali berubah drastis dibanding hari-hari biasanya. Pulau yang dikenal sebagai destinasi wisata internasional ini mendadak menjadi sangat sunyi. Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menghentikan seluruh operasional penerbangan selama 24 jam penuh, baik untuk kedatangan maupun keberangkatan. Tidak ada pesawat yang lepas landas atau mendarat, menjadikan Bali satu-satunya daerah di Indonesia yang menutup bandara sepenuhnya dalam rangka perayaan keagamaan.


Di jalan raya, kondisi juga terlihat tidak biasa. Tidak ada kendaraan yang melintas, tidak terdengar suara mesin, dan tidak ada aktivitas lalu lintas. Kawasan yang biasanya ramai seperti pusat kota, area pantai, hingga kawasan wisata populer berubah menjadi kosong total. Toko, restoran, pusat perbelanjaan, dan tempat hiburan tutup sementara. Bahkan lampu-lampu luar ruangan pada malam hari dibatasi sehingga suasana terasa lebih gelap dan tenang.


Selama periode ini, keamanan dan ketertiban dijaga oleh pecalang, yaitu petugas keamanan adat yang bertugas di masing-masing desa atau wilayah. Mereka berpatroli untuk memastikan aturan Nyepi dipatuhi oleh seluruh masyarakat, termasuk wisatawan. Pecalang biasanya berjaga di titik-titik tertentu dan akan menegur siapa pun yang melanggar ketentuan.


Bagi wisatawan yang sedang berada di Bali, pengalaman Nyepi menjadi sesuatu yang unik dan jarang ditemukan di tempat lain. Tamu hotel tetap diperbolehkan beraktivitas di dalam area penginapan, namun tidak dapat keluar ke jalan umum. Banyak wisatawan memanfaatkan momen ini untuk beristirahat, membaca, atau menikmati suasana yang benar-benar hening. Pada malam hari, tanpa kebisingan dan minim cahaya buatan, langit Bali tampak lebih jelas dengan taburan bintang yang terlihat lebih terang dari biasanya.

Suasana Bali saat Nyepi bukan sekadar sepi, tetapi benar-benar menghadirkan pengalaman berbeda yang memperlihatkan sisi lain dari pulau ini—tenang, tertib, dan penuh rasa hormat terhadap tradisi.


Prosesi wanita cantik Bali dengan kostum tradisional

(Sumber: iStockphoto)


Setelah 24 jam pelaksanaan Nyepi berakhir, umat Hindu memasuki tahap yang disebut Ngembak Geni. Secara harfiah, “ngembak” berarti menyalakan kembali, dan “geni” berarti api. Istilah ini melambangkan dihidupkannya kembali aktivitas dan kehidupan sehari-hari setelah sebelumnya dihentikan sementara.


Ngembak Geni menjadi momen transisi dari suasana hening menuju kehidupan yang kembali berjalan normal. Pada hari ini, keluarga dan masyarakat mulai beraktivitas seperti biasa, namun dengan semangat dan suasana hati yang diperbarui. Api yang kembali dinyalakan bukan hanya bermakna fisik, tetapi juga simbol dimulainya energi dan harapan yang baru.


Salah satu tradisi penting dalam Ngembak Geni adalah saling memaafkan. Anggota keluarga, kerabat, dan tetangga saling berkunjung untuk mempererat hubungan serta menyelesaikan kesalahpahaman yang mungkin terjadi di masa lalu. Momen ini memperkuat nilai kebersamaan dan keharmonisan sosial dalam masyarakat Bali.


Ngembak Geni juga menandai awal lembaran baru dalam Tahun Saka. Setelah melalui rangkaian persiapan dan pelaksanaan Nyepi, hari ini menjadi titik awal untuk menjalani kehidupan dengan niat yang lebih baik. Suasana yang sebelumnya sunyi kini berganti dengan kehangatan interaksi dan optimisme menyambut perjalanan satu tahun ke depan.

Berdoa saat Upacara Melasti

(Sumber: iStockphoto)


Berikut beberapa contoh ucapan Hari Raya Nyepi 2026 yang bisa digunakan:

“Selamat Hari Raya Nyepi 2026. Semoga Tahun Baru Saka membawa kedamaian, kebijaksanaan, dan keseimbangan dalam setiap langkah kehidupan.”
“Rahajeng Nyepi Caka 1948. Semoga kita semua senantiasa diberi ketenangan lahir dan batin.”
“Selamat Hari Raya Nyepi. Semoga selalu damai dan penuh berkah.”
“Rahajeng Nyepi. Semoga tahun ini menjadi awal yang lebih baik.”
“Dalam keheningan, kita menemukan kedamaian. Selamat Hari Raya Nyepi 2026.
“Semoga Tahun Baru Saka membawa hati yang lebih tenang dan hidup yang lebih seimbang.”
“Happy Nyepi Day 2026. May this Day of Silence bring peace and renewal into your life.”
“Wishing you a peaceful and meaningful Nyepi.”

Orang Bali di pura Pura Dalem Penetaran Ped di Nusa Penida

(Sumber: iStockphoto)


Bagi wisatawan yang berencana berada di Bali saat Hari Raya Nyepi 2026, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan agar perjalanan tetap nyaman dan menghormati tradisi setempat.


1. Siapkan Kebutuhan Sehari Sebelumnya

Pastikan Anda membeli makanan, minuman, obat-obatan, dan kebutuhan pribadi sebelum hari Nyepi dimulai. Minimarket, restoran, dan layanan pengantaran tidak beroperasi selama 24 jam tersebut, sehingga persiapan sangat penting.


2. Jangan Keluar dari Area Hotel atau Penginapan

Selama Nyepi, wisatawan tidak diperbolehkan keluar ke jalan umum. Anda hanya bisa beraktivitas di dalam area hotel atau vila. Beberapa hotel tetap menyediakan layanan internal terbatas untuk tamu.


3. Perhatikan Jadwal Penerbangan

Bandara di Bali tutup selama Nyepi. Jangan menjadwalkan kedatangan atau keberangkatan pada hari tersebut karena tidak ada penerbangan yang beroperasi.


4. Hormati Aturan dan Tradisi Lokal

Meskipun Anda bukan pemeluk Hindu, seluruh orang yang berada di Bali wajib mematuhi ketentuan Nyepi. Hindari membuat kebisingan, menyalakan lampu terlalu terang, atau melakukan aktivitas yang dapat mengganggu ketenangan.


5. Batasi Aktivitas Digital dan Hiburan

Walaupun tidak selalu ada pemadaman internet, suasana Nyepi mengedepankan ketenangan. Sebaiknya kurangi penggunaan musik keras atau hiburan yang menimbulkan suara berlebihan di dalam kamar.


6. Manfaatkan Waktu untuk Beristirahat

Nyepi bisa menjadi kesempatan langka untuk benar-benar beristirahat tanpa gangguan. Anda dapat membaca buku, meditasi ringan, menulis jurnal, atau sekadar menikmati suasana yang tenang.


7. Nikmati Langit Malam yang Lebih Jernih

Karena minimnya cahaya dan aktivitas, malam hari saat Nyepi sering kali menghadirkan pemandangan langit yang sangat jelas. Jika hotel mengizinkan, Anda bisa menikmati suasana tersebut dari area terbuka penginapan tanpa keluar ke jalan umum.


8. Ikuti Informasi dari Pihak Hotel

Setiap hotel memiliki kebijakan internal masing-masing selama Nyepi. Pastikan Anda memahami aturan yang diberlakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman.