Destinasi Tersembunyi di Yunnan yang Sangat Diremehkan
Ada sebuah tempat di Yunnan, lebih tenang dari Dali, lebih tersembunyi dari Xishuangbanna, lebih sederhana dari Ruili. Namanya Mangshi, dalam bahasa Dai disebut "Menghuan". Banyak orang yang berlibur ke Yunnan akan melewati tempat ini untuk transit, atau datang dari Dali dengan bus selama beberapa jam untuk singgah sebentar, tetapi jarang ada yang sengaja datang ke sini. Saya juga sama, berkali-kali lewat tanpa memperhatikan, sampai suatu kali saya sengaja menginap tiga hari, barulah saya menyadari betapa berharganya tempat ini untuk dinikmati perlahan.
Mangshi, Yunnan
Mangshi adalah ibu kota Prefektur Otonomi Dai dan Jingpo Dehong, suku Dai merupakan lebih dari separuh total populasi, menjadikannya salah satu tempat dengan budaya Dai paling kental di Provinsi Yunnan. Kota ini tidak besar, objek wisata utamanya terkonsentrasi di pusat kota dan daerah sekitarnya yang bisa dikunjungi dalam satu atau dua hari. Pagoda Perak, Pagoda Emas Besar, Kota Tua Dai, pemandian air panas, inilah Mangshi yang dikenal kebanyakan orang. Namun, yang benar-benar membuat Mangshi berbeda justru adalah hal-hal yang tidak tertulis dalam panduan perjalanan.
Mari kita bahas Pagoda Perak dan Pagoda Emas. Pagoda Perak Menghuan terletak di lereng Gunung Leiya di timur kota, dengan badan pagoda berwarna putih susu yang bertingkat-tingkat mengikuti kontur gunung, dan puncaknya menembus langit cerah. Dari kaki gunung hingga ke depan pagoda terdapat jalan tangga yang panjang, di kedua sisinya ditanami berbagai sukulen dan tanaman tropis, proses mendaki itu sendiri adalah sebuah ritual. Waktu terbaik untuk datang ke sini adalah saat matahari terbenam, cahaya keemasan menyinari badan pagoda, pemandangan hutan pagoda di dekatnya dan dataran luas di kejauhan terlihat jelas, garis cakrawala diwarnai merah keemasan. Jika beruntung bertemu dengan senja, seluruh langit akan berwarna merah muda keunguan, Pagoda Perak dengan latar belakang seperti itu tampak seperti bangunan dalam dongeng.
Pagoda Emas Besar berada di barat kota, merupakan pagoda Buddha Tibet, dengan gaya yang sangat berbeda dari Pagoda Perak. Pagoda Emas adalah kelompok pagoda padat, dengan hutan pagoda berbentuk lonceng mengelilingi pagoda utama, memberikan kesan yang lebih megah. Di dalam pagoda, ribuan lampu minyak yak menyala sepanjang tahun, saat masuk, cahaya lampu redup kekuningan, dan aroma cendana khas Tibet langsung tercium, terasa sakral dan hangat. Lebih banyak penduduk lokal yang datang untuk beribadah di sini, relatif sedikit turis, sehingga tidak terlalu komersial.
Kota Tua Dai berada di dekat jalan pejalan kaki Houjiang, bukan kota tua yang sengaja dibangun untuk turis, melainkan jalanan yang benar-benar dihuni oleh penduduk lokal. Bangunan-bangunan bergaya ruko, dengan toko-toko di kedua sisinya menjual berbagai kebutuhan sehari-hari dan jajanan lokal, datang sebelum jam delapan pagi kamu bisa melihat penduduk lokal membawa keranjang belanja, sangat ramai. Di kota tua ini ada toko kue beras percik air yang sudah buka tiga puluh tahun, kue beras Dai dikukus dengan dibungkus daun pisang, manis tapi tidak eneg, saat pulang bisa beli beberapa untuk dimakan di jalan. Di jalan juga ada beberapa toko barbekyu Dai, daging babi panggang, kulit babi panggang, nasi ketan panggang, ditemani teh asam khas Mangshi, adalah rasa yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Beberapa tips praktis:
⏰ Waktu terbaik: Oktober hingga April tahun berikutnya adalah musim kemarau, banyak hari cerah, bagus untuk berfoto, dan relatif sedikit turis. Juni hingga September adalah musim hujan, tetapi tanaman paling hijau, volume air terjun paling besar, memiliki daya tarik tersendiri, hanya saja perlu membawa perlengkapan hujan.
🚗 Transportasi: Mangshi memiliki bandara (Bandara Dehong Mangshi), penerbangan dari Kunming sekitar satu jam, atau bisa naik bus dari Dali sekitar lima hingga enam jam. Di dalam kota ada taksi dan Didi, mudah untuk pergi ke mana saja, tarif awal sangat murah. Menyewa sepeda listrik juga sangat nyaman, pusat kota tidak besar, bersepeda bisa mencakup semua objek wisata utama.
💰 Tiket masuk: Tiket Pagoda Perak tiga puluh yuan, tiket Pagoda Emas empat puluh yuan, tiket terusan kedua pagoda enam puluh yuan. Penduduk lokal mengatakan bisa mencari penduduk lokal untuk masuk dengan harga lebih murah, belum diverifikasi, jika tertarik bisa dicoba. Kota tua tidak memerlukan tiket masuk, area kehidupan suku Dai sepenuhnya gratis.
🍜 Rekomendasi kuliner: Saat di Mangshi, beberapa hidangan ini wajib dicoba—kue beras percik air, teh asam, mi beras sapei, nasi bambu. Kue beras percik air bisa dibeli di toko tua di Kota Tua Dai; teh asam bisa dicoba di perkebunan teh; mi beras sapei ada di mana-mana, direkomendasikan pergi ke "Menghuan Daijia" dekat Kota Tua Dai; nasi bambu banyak tersedia di warung barbekyu.
📸 Saran fotografi: Cahaya terbaik di Pagoda Perak adalah dua jam sebelum matahari terbenam, disarankan memakai pakaian berwarna terang, putih atau krem akan memberikan hasil terbaik. Pencahayaan di dalam Pagoda Emas redup kekuningan, saat memotret perhatikan untuk tidak memotret biksu di dalam pagoda, hormati kepercayaan setempat. Untuk berfoto di kota tua, disarankan pergi sebelum jam sembilan pagi, cahaya bagus dan sedikit orang.
🛁 Pengalaman pemandian air panas: Di dekat Mangshi ada Pemandian Air Panas Gunung Merak, suhu airnya pas, kualitas airnya jernih, merupakan tempat pemandian air panas yang sering dikunjungi penduduk lokal. Tidak memerlukan tiket masuk, tetapi perlu membawa pakaian renang sendiri. Setelah berendam air panas, bisa juga sekalian mendaki gunung untuk berolahraga.
Jika ingin merasakan budaya Dai lebih dalam, bisa mengunjungi desa-desa di sekitarnya. Ada banyak desa suku Dai sekitar setengah jam perjalanan dari pusat kota, setiap rumah menanam bunga, aroma bunga cempaka dan melati semerbak. Bisa mencari restoran agrowisata untuk makan siang khas Dai, daun pisang sebagai piring, nasi ketan dimakan dengan tangan, ikan bakar dan daging babi panggang ditemani teh asam, itulah kehidupan Dai yang paling otentik.
Mangshi bukanlah kota yang akan menjadi viral, ia tenang, tersembunyi, dan tidak mencolok. Namun justru karena itu, ia mempertahankan budaya Dai yang paling lengkap, kuliner Dai yang paling otentik, dan ritme hidup yang paling lambat. Jika kamu datang ke Yunnan, jangan hanya pergi ke Dali dan Lijiang, luangkan beberapa hari untuk Mangshi, kamu akan menemukan Yunnan yang berbeda.