#easytravelpost Gamalama (1.715 m) adalah gunung berapi kerucut di pulau Ternate, Maluku — hutan awan berlumut membentang di sepanjang pelana 1.000–1.400 m di jalur Ake Taja, dengan perkebunan cengkeh di bawahnya dan hutan awan Myrtaceae di atasnya. Tidak ada biaya masuk taman, pemandu 300–500 ribu IDR/hari (koperasi kota Ternate), bandara Sultan Babullah→titik awal pendakian 30 menit naik ojek (50 ribu IDR). Terbaik Juni–September; Januari–Maret ditutup karena peringatan erupsi.
Saya terbang dari Jakarta→Ternate, naik ojek ke titik awal pendakian Dufa-Dufa pukul 06:30, pemandu pukul 07:00 (400 ribu IDR), mendaki. Lumut itu adalah hutan awan Ternate: Thuidium pada batang pohon cengkeh setebal 1 cm, Metzgeria pada Syzygium setebal 1 cm, suhu 14°C di bulan Juli, burung jalak Maluku, kerucut Tidore di seberang selat. Saya mencapai pelana berlumut di ketinggian 1.200 m pukul 09:30, lumut di pos survei Belanda lama berwarna hijau kehitaman, makan nasi kuning pasar Ternate seharga 25 ribu IDR, menyaksikan burung drongo berbintik-bintik mencari makan di tengah kabut.
Kesalahan: Saya mulai pukul 10:00 di bulan Agustus — awan sore di pelana, pemandangan nol, ditambah jalur Ake Taja licin; mulai pukul 06:30, berbalik di ketinggian 1.200 m jika awan bertambah tebal. Kesalahan lain: Gamalama tiba-tiba naik ke level 2 tanpa pemberitahuan — periksa PVMBG di Ternate. Apakah Anda lebih memilih ojek seharga 50 ribu + pemandu seharga 400 ribu IDR untuk rute Ternate→Gamalama yang dipenuhi lumut dan hutan awan, atau melewatkan gunung berapi dan memilih berjalan-jalan di perkebunan cengkeh + Benteng Oranye sebagai gantinya?