Perasaan paling autentik dari perjalanan ke Pegunungan Tianshan adalah perasaan tak berarti.
Saat mobil mencapai kaki gunung, pegunungan itu tampak tanpa suara. Gugusan gunung itu bukanlah hijau kehijauan seperti lukisan, melainkan punggungan batu bergerigi berwarna abu-abu besi, puncak-puncaknya yang bersalju berkilau bagai pisau dingin. Berdiri di bawah, tak mampu melihat puncaknya, aku merasa seperti setitik debu yang tertiup ke sana secara tak sengaja.
Saat mendaki, napasku perlahan menipis menjadi kabut putih oleh udara tipis, dan langkah kakiku terasa berat seolah terhimpit batu. Di sekelilingku hanya bebatuan sunyi dan seekor elang berputar-putar di kejauhan, tak peduli dengan kedatangan dan kepergianku. Di sini, hiruk-pikuk, ego, dan ketenaran masyarakat manusia tersapu oleh angin gunung. Aku hanya bergerak, mengikuti naluri bertahan hidup yang paling kuno: ke atas, ke depan.
Saat mencapai lereng gunung, tiba-tiba aku melihat tetesan salju yang mencair membentuk aliran, mengalir deras melalui celah-celah bebatuan. Air ini pasti akan mengalir ke oasis, menyuburkan anggur dan ladang gandum, memelihara nyanyian, tarian, dan cinta. Pada saat ini, saya tiba-tiba menyadari: Kemegahan Pegunungan Tianshan tidak dimaksudkan untuk menegur ketidakberartian saya, melainkan, dengan keagungannya yang abadi, untuk menggabungkan ketidakberartian saya ke dalam tatanan yang lebih luas. Ketidakberartian saya, seperti setetes salju itu, adalah bagian dari sebuah narasi agung.
Menuruni gunung dan menoleh ke belakang, Pegunungan Tianshan tetap sunyi. Mereka tidak mengingat saya, tetapi saya telah mengambil kebenaran yang mereka anugerahkan kepada saya—mengakui ketidakberartian saya memungkinkan saya melihat luasnya alam semesta.