Narasi epik yang melacak asal-usul budaya: Berpusat pada "Hetu Luoshu", melalui tiga babak cerita yang menghubungkan mitos dan adegan sejarah seperti Fuxi menggambar trigram dan Yu Agung mengendalikan banjir, menampilkan kontinuitas peradaban Tiongkok "dari budaya He-Luo ke era digital", memperkuat kedalaman sejarah Luoyang sebagai tempat asal peradaban Tionghoa.
Praktik inovatif revitalisasi warisan nonbendawi: Menggunakan teknik seni digital untuk menghidupkan kembali kebijaksanaan klasik seperti "Zhou Yi" dan "Dao De Jing", menampilkan kembali adegan warisan nonbendawi tingkat nasional seperti "Kuda Naga Membawa Diagram" dan "Kura-kura Suci Menyerahkan Kitab", mengubah simbol budaya statis menjadi pengalaman budaya dinamis, yang mendapat pujian tinggi dari penonton sebagai "populer tapi tidak vulgar".
Pengalaman imersif yang didukung teknologi: Menggunakan konfigurasi audio-visual tingkat teater nasional, termasuk layar LED melengkung yang dapat dilipat, layar proyeksi selubung lebih dari seribu meter persegi, panggung naik-turun berbentuk grid sembilan unik, dan sistem penangkapan gerakan real-time, mewujudkan pemandangan menakjubkan seperti "langit berbintang terbalik" dan "banjir yang mengalir deras", menciptakan pesta indrawi multidimensi.