🏯[Pagoda Sumeru di Kuil Kaiyuan di Zhengding]
Sosok Dinasti Tang yang terlupakan dan menyendiri: Mendengarkan hembusan napas struktur kayu di sela-sela waktu
📍Hebei · Zhengding | Pagoda Sumeru di Kuil Kaiyuan
Di antara konstelasi sembilan menara, empat pagoda, dan delapan kuil utama Zhengding yang memukau, Pagoda Sumeru adalah yang paling sunyi dan sederhana, namun yang paling menyentuh hati saya.
Pagoda ini tidak semegah Paviliun Welas Asih Agung di Kuil Longxing, juga tidak seaneh Pagoda Hua di Kuil Guanghui, juga tidak memiliki atmosfer Zen yang bertahan lama seperti Pagoda Chengling di Kuil Linji. Pagoda ini berdiri dengan tenang di dalam Kuil Kaiyuan, berbentuk persegi dan bertumpuk, seperti kitab suci kuno yang tertutup, sampulnya berbintik-bintik, namun setiap katanya memiliki bobot.
1. Bentuk "Canggung": Tulang Dinasti Tang, Daging Dinasti Liao
Pagoda Xumi pertama kali dibangun pada tahun kesepuluh masa pemerintahan Zhenguan Dinasti Tang (636 M). Struktur yang ada dibangun kembali pada masa Dinasti Jin, tetapi bentuk keseluruhannya tetap mempertahankan kerangka megah pagoda Dinasti Tang—struktur bergaya paviliun persegi dari batu bata dan batu, tiga belas tingkat atap yang rapat, dan tinggi total sekitar 42 meter.
Pagoda ini tidak memiliki atap yang halus seperti pagoda Dinasti Song dan pagoda-pagoda setelahnya, juga tidak memiliki ornamen rumit seperti pagoda Dinasti Ming dan Qing. Keindahannya bukan terletak pada ornamennya, melainkan pada proporsi dan ritmenya: atap di setiap tingkat memiliki jarak yang sama dan meruncing dengan sangat halus, naik secara bertahap dari bawah ke atas seperti tangga, menghadirkan tatanan yang hampir matematis dan khidmat.
Inilah esensi arsitektur Dinasti Tang—tanpa pamer, tanpa tipu daya, rasa kemegahan melalui kesederhanaan, dan rasa berat melalui kesederhanaan.
Tuan Liang Sicheng pernah berkata, "Arsitektur Dinasti Tang bagaikan seorang pria terhormat yang berdiri di dunia, menebarkan kekaguman tanpa amarah."
Pagoda Xumi adalah catatan kaki paling sunyi untuk pernyataan ini.
II. "Hantu" Kayu: Dialog Memukau dengan Satu-satunya Menara Lonceng Kayu Dinasti Tang di Tiongkok
Jika Pagoda Sumeru adalah "epik batu bata dan batu", maka Menara Lonceng Kuil Kaiyuan, yang berdiri di sampingnya, adalah "hantu kayu".
Menara lonceng ini adalah satu-satunya menara lonceng kayu Dinasti Tang yang masih ada di Tiongkok (tingkat atasnya dibangun oleh Dinasti Tang, tingkat bawahnya telah direnovasi pada generasi-generasi berikutnya). Braket, kolom, dan baloknya semuanya mempertahankan karakteristik khas periode pertengahan Tang: megah dan luas, menyapu alami, dengan atap yang membentang lebar bagai sayap.
Yang paling mencolok adalah konfrontasi spasialnya dengan Pagoda Sumeru—
satu batu bata, satu kayu, satu statis, satu dinamis, satu tanah, satu kayu.
Yang satu adalah bayangan menara yang menekan tanah, yang lainnya adalah atap yang menjulang tinggi dan mengancam akan menjulang.
Mereka berdiri berdampingan, sebuah dialog yang membentang ribuan tahun:
Menara bata berkata, "Aku menantang waktu dengan keabadianku."
Bangunan kayu menjawab, "Aku menjadi saksi perjalanan waktu dengan napasku."
Ini lebih dari sekadar penjajaran arsitektur; ini adalah koeksistensi dua sikap budaya—
beratnya utara dan ringannya selatan,
pengejaran keabadian dan kehadiran masa kini.
III. Harta Nasional yang "Diremehkan": Misa Hening di Era Lalu Lintas
Saat ini, Zhengding ramai dikunjungi wisatawan, tetapi kebanyakan menuju Kuil Longxing.
Di depan Pagoda Xumi, seringkali hanya suara angin yang membunyikan lonceng atap dan bayangan merpati yang beterbangan di langit.
Ia tidak dinyanyikan dalam puisi seperti Pagoda Angsa Liar Besar, juga tidak membawa legenda romantis Pagoda Leifeng. Ia tidak memiliki asosiasi puitis seperti "Berlabuh di Jembatan Maple di Malam Hari" atau tontonan visual seperti "Matahari Terbenam Leifeng."
Ia hanya ada begitu saja.
Dan "kelupaan" inilah yang membuatnya murni.
Di sini, Anda tidak akan melihat foto-foto check-in atau mendengar penjelasan yang ramai. Anda hanya bisa melihat ke atas, melihat langit yang terukir oleh atap yang rapat, dan mendengarkan angin yang bertiup melalui celah-celah di antara menara.