Bagaimana Anda bisa mengunjungi India tanpa merasakan suasana aarti Hindu?
[Lokasi] Masuklah dari jalan kecil di sebelah Istana Kota. Pertama, lewati pasar lokal di sebelah kanan Anda yang menjual buah-buahan dan sayur-sayuran. Monyet memang umum di sana, jadi berhati-hatilah. Lebih jauh ke depan, Anda akan menemukan sesajen seperti bunga marigold.
[Waktu] Tujuh kali sehari, dari fajar hingga senja, tetapi waktunya bervariasi tergantung musim. Setiap aarti berlangsung sekitar 20 menit.
[Latar Belakang] Aarti ini didedikasikan untuk Krishna, inkarnasi kedelapan Wisnu. Ini karena Sawai Jai Singh, pendiri Jaipur, adalah seorang pemuja Krishna. Konon, patung hitam seorang pemain seruling muda ini paling mirip dengan Krishna sendiri.
[Prosedur] Lepaskan sepatu Anda terlebih dahulu; Anda boleh memakai kaus kaki.
Cuci tangan dan kaki Anda di kolam renang.
Setelah masuk, tunggu hingga waktunya tiba. Tirai akan terbuka, memperlihatkan patung Krishna (hingga waktunya habis, tirai akan tertutup, sehingga Anda tidak dapat melihat dewa tersebut). Para umat bersorak, bertepuk tangan, dan bergabung dengan pendeta dalam pembacaan doa. Terakhir, Anda dapat mengelilingi aula utama searah jarum jam dan keluar. Sambil berputar, Anda dapat menerima daun (yang dapat dikunyah) dan air suci dari para pendeta. Terkadang, ada juga "bantalan tinta" (yang ditempelkan di antara alis Anda).
Menuju bagian belakang aula utama, Anda akan melihat banyak orang bersandar di dinding, mirip dengan "Tembok Ratapan". Saya tidak yakin apa arti ini, tetapi saya belum pernah melihat gestur seperti ini di kuil Hindu lainnya.
[Pengalaman] Suasananya sangat khidmat dan mengharukan. Tenangkan diri, resapi suasana religius, dan cobalah untuk memahami pikiran para umat.
[Catatan] Jangan mengenakan barang-barang berbahan kulit (ikat pinggang, tas, dll.). Kaus kaki diperbolehkan.