Pagi hari saya habiskan dengan mendaki Bukit Marjan, si "paru-paru hijau" kota Split, mulai dari kawasan Varoš. Masuk ke taman ini memang gratis, tapi pendakiannya bukan main-main—ada 178 anak tangga batu yang harus dilewati cuma buat sampai ke titik pandang pertama (Telegrin). Sesampainya di puncak, teras-teras teduh di bawah pohon pinus menyuguhkan panorama atap Istana Diokletianus yang berpadu cantik dengan Laut Adriatik. Saya menyusuri jalan setapak ke arah barat menuju Gereja St. Nicholas dari abad ke-15, lalu putar balik untuk turun ke arah Pantai Bačvice. Jalan turunnya memakan waktu 40 menit. Karena suhu mencapai 32°C, naik lagi ke atas bakal terasa menyiksa, jadi saya "curang" sedikit dengan memesan Bolt dari Bačvice balik ke kota tua seharga €5. Bačvice adalah pantai berpasir paling terkenal di Split (hal yang langka di Kroasia), tapi suasananya ramai dan pasirnya agak berkerikil. Daya tarik utama rute ini sebenarnya bukan untuk berenang, melainkan kontras suasananya: aroma pinus Aleppo yang segar di Marjan vs hiruk pikuk aroma laut di Bačvice. Saya membeli cold press juice 0,5L di kios dekat pantai seharga €4; padahal di dalam taman, penjual cuma mematok €2 untuk air mineral. Kesalahan terbesar saya: pakai sandal jepit di jalur Marjan—jalannya berdebu dan licin banget. Sebaiknya pakai sepatu lari/sneakers. Selain itu, jangan harap bisa menyendiri di titik pandang yang katanya "tenang", karena kemarin ada rombongan pengantin yang lagi foto-foto di teras utama. Apakah worth it? Ya, buat dapat perspektif baru—melihat Split dari ketinggian membuat istana tampak mungil dan laut terasa sangat luas. Tapi kalau kamu anti naik tangga, naik saja kereta wisata hop-on-hop-off (€15) yang mengelilingi bukit. Pertanyaan: Kamu lebih pilih bayar buat lihat pemandangan dari puncak, atau mending uangnya dipakai sewa kursi jemur di beach club Bačvice?
Lihat teks asli