Terletak di dataran tinggi semenanjung yang menghadap ke hamparan luas Danau Sevan, Biara Sevanavank adalah salah satu situs spiritual paling ikonis di Armenia. Saat saya berkunjung pada musim gugur lalu, angin bertiup kencang melintasi danau, menghempas rambut saya dengan liar saat menaiki tangga batu menuju kompleks biara. Namun, begitu melangkah ke balik dinding kuno gereja Surp Arakelots (Para Rasul Suci), suasananya berubah drastis—temaram, hening, dan dipenuhi pekatnya aroma lilin lebah yang meleleh.
Saya membawa sebatang lilin kecil untuk dinyalakan, berharap bisa memanjatkan doa untuk keselamatan perjalanan saya. Sayangnya, angin terus saja meniup mati korek api saya, dan sumbu lilin itu sama sekali tak mau menyala. Dengan rasa frustrasi, saya menepi. Seorang biarawan tua berjanggut putih panjang menyadari kesulitan saya. Ia menghampiri dalam diam, langkah sepatu bot kulitnya yang usang terdengar bergesekan lembut dengan lantai batu. Ia tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi memberi isyarat agar saya memegang lilin itu erat-erat. Menggunakan lilin pemantik dari altar utama, ia menutupi nyala apinya dengan kedua tangan rentanya, menghalau angin agar apinya tetap tenang. Ia mencondongkan tubuhnya, menahan napas sejenak, dan akhirnya sumbu lilin saya pun menyala. Ia lalu merogoh jubahnya dan mengeluarkan sebuah penutup kaca bening kecil—yang memang khusus digunakan untuk melindungi api dari angin kencang di dalam gereja—lalu meletakkannya di atas lilin saya.
Ia menatap saya, mengangguk pelan dengan khidmat, dan menunjuk ke arah ikonostasis sebelum berlalu pergi. Itu adalah momen kebaikan yang begitu mendalam, melampaui batas bahasa apa pun. Menyalakan lilin di tempat ini bukanlah sekadar ritual wisata, melainkan sebuah tradisi yang mengakar kuat. Belakangan saya baru tahu bahwa biara ini awalnya dibangun di sebuah pulau pada abad ke-9, sebagai tempat bagi para biarawan yang mencari kesunyian dan untuk berlindung dari serangan musuh. Jika Anda berkunjung ke sini, ingatlah untuk berpakaian sopan—wanita sebaiknya menutupi rambut dan mengenakan rok (biasanya tersedia peminjaman syal di pintu masuk), sedangkan pria harus melepaskan topi. Pernahkah Anda merasakan momen kedamaian yang tak terduga di sebuah situs keagamaan? Keheningan di Sevanavank, yang hanya dipecah oleh hembusan angin dan tetesan lilin, adalah sebuah kenangan yang tak akan mudah saya lupakan.
Lihat teks asli