Danau Toba adalah kaldera supervulkanik raksasa selebar 100 km, dengan Pulau Samosir yang berada di tengahnya sebagai sisa letusan hebat masa lalu. Perjalanan saya dimulai dengan terbang ke Bandara Silangit, lalu naik taksi berbagi ke Parapat (Rp80.000). Dari sana, saya naik feri ke Tuk Tuk (Rp15.000, hanya tunai, tidak bisa pakai kartu di kapal). Untuk berkeliling, saya menyewa motor seharga Rp70.000 per hari (dengan deposit tunai). Hutan lumut ini terletak di pesisir barat Samosir, sebelah utara Ambarita. Rutenya: berkendara motor sejauh 4 km lalu jalan kaki 1,5 km menuju Makam Raja-raja Batak, dan dinding lumut tepat di belakangnya. Hutannya didominasi pohon dipterokarpa dengan lantai hutan tertutup lumut Sphagnum dan guguran daun ara. Di tebing tempat pertemuan danau dan bukit, lumut menjuntai hingga 2 meter dari tajuk pohon.
Saya membayar Rp10.000 untuk masuk ke situs Kursi Batu Ambarita, lalu berjalan bebas menuju dinding lumut. Tanpa perlu izin khusus atau penjaga hutan. Sempat kehabisan bensin, untungnya ada warung lokal yang menjual Pertalite botolan seharga Rp10.000. Tips: Jangan terlalu percaya pada rute "jalan hutan" di Google Maps karena saya malah tersasar ke kebun pisang; lebih baik tanya lokasi "dinding lumut" ke orang di warung, dan mereka akan mengarahkan Anda dengan benar.
Di bulan Juli, hujan biasanya hanya turun di sore hari; pagi harinya cerah, dan lumut menetes perlahan. Seorang ibu Batak menjual saya arsik ikan mas (Rp25.000, tunai) dan berkata bahwa lumut tersebut "menjaga napas danau." Apakah Anda bersedia berkendara melintasi gunung berapi demi melihat keajaiban hijau di tebing batu?
Lihat teks asli