Takut terjebak macet di jalan atau berdesakan melihat lautan manusia di tempat wisata saat Festival Musim Gugur?
Dengerin saran saya deh!
Cuma 2 jam 40 menit dari Delta Sungai Mutiara (PRD) langsung sampai di Luoding, perjalanan "arus balik" (reverse travel) ini seru banget sampai-sampai saya kasih predikat juara! 🚗
Sepanjang jalan nggak pernah ketemu macet parah, keluar tol masuk ke kota pun lancarnya nggak masuk akal!
【📍 Rute Self-Drive Satu Hari】
Berangkat jam 8 pagi dari PRD, tujuan pertama langsung ke Rumah Kediaman Cai Tingkai, sekitar setengah jam berkendara dari pusat kota.
Di sepanjang jalan bisa terlihat gugusan bukit (peak forest) di kejauhan, pemandangannya sangat menenangkan.
Rumah kediaman ini punya tata ruang tiga bangunan utama dengan bangunan samping di kiri dan kanan, ada dua menara pengawas yang menjulang tinggi di bagian belakang, dan halaman batu hijaunya tertata sangat rapi.
Keliling di sini hampir nggak ada orang, nggak perlu desak-desakan, malah sempat ketemu paman lokal yang berinisiatif cerita soal sejarah menara pengawas untuk melawan perampok, seru banget.
Keluar dari sana, berkendara menyisir setengah Danau Jinyin. Permukaan danau berkilau terkena cahaya, pulau-pulau kecil di tengah danau dengan pepohonan hijau terasa begitu tenang.
Nggak ada suara bising sama sekali, cocok banget buat "me-time", berhenti sebentar lalu foto-foto hasilnya sudah pasti bagus.
Tujuan kedua adalah Hutan Puncak (Peak Forest) di Kota Pingtang, cahaya jam 3 atau 4 sore itu juara banget!
Bayangan bukit jatuh ke sawah, kontras terang gelapnya maksimal. Beberapa pohon tunggal di tengah sawah kalau difoto bisa langsung jadi wallpaper.
Di pinggir hutan puncak ada Goa Julong, stalaktit di dalamnya terawat sangat baik, "Aula Julong"-nya luas banget, formasi batunya berlapis-lapis, dan pencahayaannya elegan nggak norak. Keliling sekitar 1 jam, keluar pas banget saat matahari mulai terbenam.
Tujuan ketiga pas banget momen sunset di Menara Wen Luoding, pilihan waktu saya ini harus saya puji sendiri!
Matahari terbenam mewarnai menara dengan warna oranye hangat, menara kuno berpadu langit senja, posisi utama di feed media sosial sudah pasti didapat.
Setelah naik menara, setiap lantainya punya jendela lengkung, pemandangan dari setiap ketinggian berbeda-beda. Di lantai paling atas bisa lihat matahari tenggelam di balik gunung dan sungai yang memantulkan cahaya sisa, estetikanya luar biasa. Tembok kota kuno di samping menara saat senja juga sangat terasa suasananya, lumut di bata hijau bersinar kena sinar matahari.
Sebelum pulang, sengaja mampir lagi ke Danau Jinyin buat lihat bulan Festival Musim Gugur. Bulan yang bulat dan terang menggantung di atas danau, sekeliling sunyi hanya ada suara angin, beneran bikin tenang.
Hari yang padat tapi nggak kerasa capek sama sekali, jarak antar lokasi nggak sampai setengah jam, ritmenya nyaman banget.
Lihat teks asli