Distrik Lombok di Utrecht (sebelah barat daya pusat kota, di seberang rel kereta api) adalah jantung kehidupan yang semarak bagi komunitas Suriname dan Antilla di kota ini. Di Ambachtstraat atau jalan-jalan kecil di sekitar Hoogravenseweg, Anda akan menemukan Warung Suriname (tempat makan kecil yang dikelola keluarga). Saya mampir ke salah satunya untuk menonton kickoff dini hari (pukul 06:00–08:00 waktu setempat, waktu yang pas untuk menonton pertandingan di benua Amerika). Saya memesan semangkuk Sup Saoto (£9)—sup ayam kuning kunyit beraroma sedap dengan isian bihun, telur rebus, ayam suwir, tauge, dan taburan bawang goreng renyah, disajikan dengan kecap manis dan sambal. Untuk porsi yang lebih mengenyangkan, saya menambahkan Roti (£12)—roti pipih gulung yang diisi kari kentang, ayam, dan buncis. Pukul 05:45 pagi, warung ini sudah ramai didatangi para perawat yang baru lepas shift malam dan mahasiswa yang habis begadang. Layar TV yang biasanya memutar video klip musik Suriname kini menayangkan siaran langsung Piala Dunia. Cita rasanya benar-benar luar biasa—hangat, pedas, dan memanjakan perut. Pelanggannya merupakan percampuran antara ekspatriat Suriname dan warga lokal Belanda yang penasaran. Menonton pertandingan bola sambil menyantap Saoto seolah menghubungkan Anda dengan sejarah kolonial yang mengikat Belanda dan Suriname. Distrik Lombok bisa dicapai hanya dengan 15 menit berjalan kaki atau naik bus singkat (jalur 7, 8) dari Utrecht Centraal. Saya merekomendasikan tempat ini karena ini adalah lokasi terbaik di Utrecht untuk memahami jiwa multikultural kota tersebut. Makanannya luar biasa enak, bangun subuh-subuh begini terasa seperti masuk ke klub rahasia, dan hubungannya dengan skuad "Oranye" (banyak pemain keturunan Suriname-Belanda yang bersinar di timnas Belanda) menambah lapisan makna yang mendalam. Benar-benar pengalaman lezat yang terdekolonisasi.
Lihat teks asliDi wilayah atau bahasa pilihan Anda, tagar Momen Trip ini tidak akan mengarahkan Anda ke halaman tagar