Rintik gerimis menyelimuti "Jalan Utama Zhili", mengubah jalan kuno seribu tahun ini layaknya lukisan tinta yang basah menawan. Rintik hujan yang halus membasahi jalan setapak batu hijau, sementara pantulan air memperlihatkan siluet bangunan bata abu-abu di tepian jalan. Pintu dan jendela melengkung serta ukiran bata yang mulai memudar, seolah berbisik tentang kisah masa lalu di tengah kabut hujan yang hening.
Tanpa hiruk-pikuk seperti biasanya, Xi Dajie di bawah guyuran hujan terasa jauh lebih tenang. Bata hijau dan genteng abu-abu yang lembap, ditambah tetesan air yang jatuh dari sudut atap, seakan sedang mengetuk waktu yang telah berlalu. Berjalan perlahan di bawah payung, tampak papan nama toko-toko tua yang tertutup uap air tipis. Arsitektur bergaya perpaduan Tiongkok dan Barat di sini menampilkan dua sisi: ketegasan kota tua di utara dan kelembutan yang dibawa oleh suasana hujan.
Suara hujan meredam kebisingan pasar, menyisakan atmosfer unik yang hanya dimiliki jalan tua ini. Aroma khas dari kedai-kedai legendaris mulai tercium samar saat keramaian mereda, menampakkan jati diri jalan yang sebenarnya. Air hujan tidak hanya menyapu debu, tetapi juga membuka lembaran sejarah; setiap kepingan batu di bawah kaki menyimpan memori ribuan tahun dari Prefektur Baoding.
Hujan turun di Xi Dajie; seulas mimpi lama dan denyut kehidupan kota perlahan terhampar di balik kabut yang syahdu.
Lihat teks asli